Bila kamu mengamati kehidupan sosial disekitarmu, kamu akan menemukan perbedaan perilaku antara individu yang satu dengan individu yang lain.. Entah itu temanmu, pacarmu, rekan kerja atau siapapun itu termasuk dirimu sendiri..
Nah, perilaku ini dipengaruhi oleh faktor bawaan lahir (nature) dan lingkungan (nurture)..
Kali ini, aku akan membahas yang bawaan lahir.. Dalam teori psikologi yang aku pahami, ada 4 tipe dasar temperamen manusia (orang awam mengatakan itu adalah kepribadian) yaitu : Sanguinis, koleris, melankolis dan plegmatis..
Ada individu yang murni memiliki salah satu dari 4 tipe ini dan ada juga yang gabungan dari tipe ini.. Contohnya aku yang Melankolis-Koleris (tentunya aku mengentahuinya dengan bantuan tes psikologi yang resmi diberikan psikolog)
Masing-masing tipe ini punya sisi positif dan negatifnya.. Yang paling terasa dan kelihatan itu ya yang koleris dan tipe gabungan dengan koleris ini (koleris sanguinis, melankolis-koleris, dan lainnya)..
Sisi positifnya si koleris ini adalah mereka cenderung berapi-api (mengebu-ngebu), energik, berjiwa pemimpin, tegas, cekatan dan cepat dalam melakukan sesuatu, serta sangat berorientasi pada hasil.. Negatifnya, mereka cenderung arogan dan pemarah.. Disamping itu, kamu juga dapat melihat si koleris ini tampak sok berkuasa.. Yah itu memang naluri mereka yang selalu ingin menguasai dan ingin jadi nomor 1. Itulah kenapa si Koleris ini selalu menunjukkan sikap superiornya yang berlebihan..
Ingin mendominasi dalam pembicaraan.. Ingin menjadi ketua.. Ingin dianggap paling pintar.. Paling bisa.. Ingin dianggap sangat kompeten.. dan banyak ingin-ingin lainnya sehingga mereka bersikap sangat superior..
Ada hal yang tidak disadari dari si koleris ini bahwa sikap superior mereka ini cenderung dibenci orang-orang.. Namun tak sedikit juga dari orang koleris yang tetap disukai.. Kuncinya adalah kesadaran diri dan niat untuk mengembangkan diri.. Pada dasarnya, jika sisi negatif ini kita kontrol, maka bisa menjadi kekuatan..
Karena kebetulan aku bertemperamen melankolis-koleris, jadi aku bisa share mengenai pengembangan diri ini..
Dalam lingkup bersosialisasi, hendaknya kita cenderung untuk mendengarkan dulu orang lain sampai selesai sebelum kita berbicara.. Kuncinya adalah kesadaran dan kesabaran.. Kita sadar bahwa kita ingin disukai orang lain, maka dari itu kita lebih bersabar untuk mendengarkan..
Ada sisi positif jika kita lebih dulu mendengarkan daripada bicara, yaitu: Kita lebih mampu menganalisa maksud pembicaraan orang lain dan orang lain merasa dihargai karena telah didengarkan dengan baik.. Hal ini sangat bagus, terutama jika kita menjadi seorang pemimpin.. Pemimpin yang baik selalu menghargai (mendengarkan) bawahannya..
(Coba engkau renungkan beberapa menit mengenai apa yang telah aku tulis sampai sini)
Sudah ??
Sudah direnungkan ??
Baik.. Aku lanjutkan..
Dalam berprestasi, baik itu akademis ataupun karir, hendaknya kita tidak perlu mengumbar-umbarkan pencapaian kita.. Itu akan membuat kita terlihat sombong sehingga tidak disukai..
Kita tetap akan terlihat lebih superior tanpa kita sendiri yang bunyi..
Caranya ??
Buatlah orang disekitarmu menyukaimu.. Dengan menyukaimu, mereka akan cenderung memperhatikan kamu, termasuk tentang prestasi yang kamu capai..
Aku sendiri tak pernah mengatakan diriku pintar, tapi dosen dan mahasiswa lainnya mengatakan demikian.. Mereka yang bunyi, aku tidak..
Termasuk dalam dunia kerja, managerku selalu berbunyi mengenai hal-hal positif tentang diriku.. Aku hanya bersikap rajin, sopan, tekun, sedikit bicara tapi berbuat banyak dan lainnya.. Hasilnya managerku yang bunyi kepada rekan kerja lainnya dan syukurnya rekan kerja yang lain juga tidak ada yang membenciku, karena aku terlihat humble..
Mereka yang bunyi, aku tidak.. :D
(Cobalah renungkan sejenak..)
Nah, permasalahan paling umum yaitu mudah marah.. Jujur !! Sampai sekarang aku masih mudah marah.. Tapi tak kukeluarkan kemarahan itu secara meledak-ledak.. Ada 2 mantra ajaib yang menahannya.. Mantra ini selalu kubaca dalam hati ketika marah..
"Marah? Maka aku akan terlihat bodoh !!"
Bila masih tidak bisa menahan amarah, aku akan teriak dalam hatiku "Bodoh sekali kau! (aku)"
"Marah berarti kalah, Aku tidak akan kalah !!"
Bila masih marah, aku menantang diriku dengan berkata dalam hati, "Bersikap tenanglah Pecundang !!"
Terkadang marah itu tetap berguna, tapi marahlah secara wajar dan smart..
Ketahuilah, orang yang marahnya meledak-ledak itu terlihat bodoh sedangkan orang yang tenang itu terlihat pintar..
Tidak percaya ?? Silahkan amati saja orang yang amarahnya meledak-ledak.. Mirip sama yang di RSJ.. Yakinlah perilakunya terlihat bodoh + gila..
Lol~
Bilamana kita telah mencapai posisi sebagai pemimpin (entah itu supervisor, manager ataupun direktur), maka hendaknya kita lebih menghargai bawahan.. Ingat! Dengarkan mereka..
Pujilah mereka didepan umum, tapi marahi kesalahan mereka diruangan tertutup..
Bila ingin memarahi, hindari menggunakan perkataan yang membuat mereka down.. Tanyakan alasan kenapa mereka melakukan kesalahan itu..
Tunjukkan simpati kita ! Perlakukan bawahan kita sebagaimana kita ingin diperlakukan baik..
Kita boleh memarahi mereka, tapi usahakan kata-kata itu dapat membuat mereka untuk mencoba belajar dari kesalahan..
Dengan begini, kita dapat menjadi pemimpin tegas yang disukai..
Sekian dariku..
Salam sukses..
:D